Hukum Fidyah dan Qadha Salat Puasa Bagi Orang yang Meninggal

1

badah salat dan puasa merupakan perkara kudu yang tidak boleh diremehkan. Ketika seseorang semasa hidupnya pernah meninggalkan salat atau puasa wajib, apakah sebab aktivitas atau sebagainya, maka direkomendasi untuk mengqadhanya (menggantinya).

Apabila sampai akhir hayatnya (wafat), salat atau puasa wajibnya itu belum selesai ia qadha semuanya, maka kerabatnya kudu mengqadhanya atau berinisiatif membayar fidyah salat atau puasa kudu si mayit tersebut.
Lantas, apakah hukum membayar fidyah salat atau puasa bagi orang yang telah meninggal? Berikut jawabannya:

Dalam Mazhab Syafi’i , tersedia tiga pendapat tentang hukum qadha salat atau puasa seseorang. Bagi yang mampu mengqadhanya semasa hidupnya, akan tapi belum ia qadha sampai akhir hayatnya, maka tersedia tiga pendapat, yaitu:

  1. Kerabatnya tidak mengqadhanya dan tidak membayar fidyahnya.
    2) Diqadha kerabatnya atau orang lain yang diizinkan kerabat atau yang diwasiatkan si mayit.
    3) Membayar satu mud dari normalitas makanan pokok di tempat itu kepada orang miskin untuk satu salat atau satu puasa kudu yang ditinggal.
    Imam Nawawi berkata: Pendapat yang benar kembali dipilih adalah sunah hukumnya bagi kerabat atau orang lain yang diizinkan kerabat atau yang diwasiatkan si mayit mengqadha salat atau puasa si mayit tersebut. Ini berdasarkan hadis:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Siapa yang meninggal, sedang ia tetap membawa qadhaan puasa yang belum diqadha (diganti), maka walinya yang melaksanakannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam as-Subkii juga pernah melaksanakan salat qadha dari sebagian kerabatnya yang telah meninggal. Akan tapi didalam suatu pendapat boleh jugabagi keluarga yang ditinggal membayar fidyah salat atau puasa kudu si mait tersebut, berdasarkan hadis:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

“Siapa yang telah meninggal dan ia tetap punya tanggungan puasa qadha sebulan, maka hendaknyalah kerabatnya membayar fidyah kepada satu orang miskin untuk tiap tiap satu hari dari puasa.” (HR. Tirmidzi)

Dalil di atas menerangkan masalah puasa saja, akan tapi ulama’ menganalogikan puasa bersama dengan salat, supaya hukumnya sama.


Dengan membayar fidyah satu mud normalitas makanan pokok di tempat itu kepada orang miskin untuk satu salat atau puasa kudu yang belum diqadha.

Ada dua perihal yang kudu diperhatikan:


1) Si mayit meninggalkan harta warisan.
2) Si mayit tidak meninggalkan harta warisan.

Jika si mayit meninggalkan harta warisan, maka bagi kerabat si mayit kudu hukumnya mengqadha atau membayar fidyah salat atau puasa kudu tersebut.

Sedangkan jikalau si mayit tidak meninggalkan harta warisan, maka bagi kerabat si mayit sunnah hukumnya mengqadha atau membayar fidyah salat atau puasa kudu tersebut.

Catatan:


1) Satu mud adalah tidak cukup lebih dalan ukuran sekarang tujuh ons.
2) Jika salat atau puasa kudu banyak, maka boleh sistem pembayaran fidyah berikut bersama dengan cara putar, sebagai berikut:

Si pembayar fidiyah mengimbuhkan beras kepada si penerima fidyah bersama dengan berkata: saya memberikan kepadamu kifarat ini sebagai penggugur salat atau puasa kudu terhadap seluruh umurnya (si mayit).

Kemudian si penerima fidyah menerima dan menghibahkan beras itu kepada si pembayar fidyah bersama dengan berkata: “Aku menerima dan saya memberikan ini kembali kepadamu.”

Kemudian begitulah seterusnya sampai seluruh salat atau puasa kudu berikut terbayar fidyahnya.

Referensi:

  1. Nihaayah al-Muhtaaj Juz 3 Hal. 193.
  2. I’aanah ath-Thoolibiin Juz 1 Hal. 33. dan Juz 2 Hal. 275-276.
  3. Mughnii al-Muhtaaj Juz 2 Hal. 172-173.
  4. Hasyiah al-Bujairomii ‘alaa Syarh al-Manhaj Juz 2 Hal. 82.
  5. Fath al-Mu’iin Hal. 272-273.
  6. Al-Majmuu’ Syarh al-Muhadzdzab Juz 6 Hal. 139 dan 372.
  7. Ithaaf al-Anaaam Bii Ahkaam ash-Shiyaam Hal. 135-136.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*